Achievement Goal Orientation


Achievement Goal Orientation

Definisi achievement goal orientation
Goal orientation merupakan karakteristik individu yang cenderung mengarahkan perilaku ke arah mencapai tujuan, terutama tujuan jangka panjang (VandenBos, 2015). Individu yang memiliki tujuan kuat, dapat mempengaruhi motivasi atau mengarahkan individu dalam belajar (Elliot & Thrash, 2001). Tujuan tersebut merupakan aspek kunci untuk menyelesaikan masalah, menghadapi kesempatan, dan tantangan hidup (Maehr & Zusho, 2009).
Achievement orientation dikonsepkan oleh Dweck dan Legget (1988) sebagai petunjuk untuk berperilaku, yang berhubungan dengan pengalaman, dan kognisi individu yang bertujuan untuk mencapai prestasi. Menurut Maehr dan Midgley (1991), achievement goal orientation (AGO) didefinisikan sebagai arah tujuan individu untuk terlibat dalam perilaku berprestasi. Individu yang berorientasi pada tujuan, memiliki pola keyakinan yang terintegrasi dan memiliki cara yang berbeda dalam mendekati, melibatkan, dan merespons pencapaian situasi serta prestasi (Ames, 1992). Untuk mencapai situasi dan prestasi dibutuhkan daya dan arah kompetensi yang didasari oleh afeksi, kognisi, dan perilaku (Elliot, 1999).
Achievement goal merupakan proses kognitif yang mengarahkan perilaku individu ke tujuan tertentu. Individu harus mengidentifikasi arah, tujuan perilaku, dan alasan. Hal tersebut dilakukan agar tujuan yang diinginkan tercapai. Selain itu, individu yang mencoba mengatur pencapaian tujuan tersebut dilakukan untuk: (a) menunjukkan kepada orang lain bahwa individu tersebut memiliki karakteristik yang positif; (b) memiliki kebanggaan akan keberhasilan; dan (c) memenangkan tantangan dari orang lain dan beberapa alasan lain yang masuk akal (Elliot & Thrash, 2001).
Achievement goal didefinisikan sebagai hasil kompetensi individu yang berusaha untuk mencapai dan menghindari sesuatu (Curry et.al., 2006) yang berfokus pada masa depan (Hulleman et.al., 2010). Secara general, achievement goal dikonsepkan sebagai representasi keadaan, kejadian, dan hasil yang mana dapat dicapai atau dihindari (Meier et.al., 2013).
Teori achievement goal orientation menurut American Psychological Assosiation (APA; VandenBos, 2015) merupakan sebuah konseptualisasi motivasi yang mengidentifikasi dua jenis tujuan pencapaian, yaitu berorientasi pada tugas (task-orientation) dan berorientasi pada ego (ego-orientation). Orientasi pada tugas merupakan fokus motivasi dalam menguasai suatu tugas, sedangkan orientasi pada ego berfokus pada pencapaian status superior dalam perbandingan sosial. Teori tersebut muncul dari karya psikologi pendidikan yang dimodifikasi untuk digunakan dalam psikologi olahraga.
Pengukuran goal orientation merefleksikan jenis, kualitas, atau kriteria keberhasilan seseorang, dan lebih dari sekadar persepsi kemampuan individu (Duda & Nicholls, 1992). Individu lebih memilih melakukan yang terbaik dalam memperoleh keterampilan dan pengetahuan. Oleh sebab itu, penelitian ini menggunakan domain achievement agar lebih general dalam mencapai keberhasilan individu di kelas.
Dimensi Achievement goal orientation
Achievement goal orientation terbagi menjadi dua, yaitu performance goal dan learning goal  (Dweck, 1986; Dweck & Leggett, 1988; Elliot & Dweck, 1988). Performance goal merupakan tujuan individu dalam memperoleh pandangan positif atau menghindari pandangan negatif seseorang mengenai kompetensinya. Learning goal merupakan tujuan individu dalam meningkatkan kompetensinya. Apabila tingkat achievement goal individu tinggi, maka pola perilakunya akan selalu tertantang dan tekun dalam belajar, sedangkan apabila achievement goal rendah maka individu perlu pertolongan dalam belajarnya, karena cenderung menghindari tantangan tersebut.
Achievement goal orientation didasari oleh dua orientasi, yaitu tugas dan ego (Duda & Nicholls, 1992; Nicholls 1984; Nicholls, Cheung, Lauer, & Patashnick, 1989; VandenBos, 2015). Orientasi pada tugas merupakan fokus motivasi dalam menguasai atau memahami suatu tugas, mengerjakan tugas dengan giat, dan bekerja sama dengan teman kelasnya. Orientasi ego berfokus pada pencapaian status superior dan berusaha melampaui nilai orang lain dalam perbandingan sosial (Duda & Nicholls, 1992). Apabila individu belajar demi menguasai pembelajaran, namun tidak ingin mendapatkan insentif atau tidak ingin mengungguli orang lain, maka berorientasi pada tugas. Apabila individu belajar demi memperoleh penghargaan dan status yang tinggi dari orang lain, maka individu tersebut berorientasi pada ego (Jagacinski & Nicholls, 1984).  
Achievemet goal dibagi menjadi dua, yaitu performance dan mastery (Ames, 1992; Ames & Archer, 1988; Archer, 1994; Fisher & Ford, 1998). Performance merupakan salah satu kemampuan yang ditunjukkan oleh kesuksesan belajar (high grade) dibandingkan dengan orang lain. Mastery berkaitan dengan individu mengembangkan kemampuan baru, yang didasarkan pada proses belajar dan melihat hasil yang bergantung pada usahanya.
Menurut Midgley et.al. (1998; 2000) terdapat 3 dimensi orientasi, yaitu task, performance-approach, dan performance-avoidance. Orientasi tujuan task mengarah pada pengembangan kemampuan individu; performance-approach mengarah pada orientasi tujuan untuk mendemonstrasikan kemampuan kepada orang lain; dan performance-avoidance merupakan orientasi tujuan untuk menghindari ketidakmampuan dalam mendemonstrasikan segala kemampuannya.
Elliot dan koleganya (Elliot, 1997, 1999; Elliot & Church, 1997; Elliot & McGregor, 2001; Elliot & Murayama, 2008; Elliot, Murayama, & Pekrun, 2011) membuat alat ukur achievement goal questionnaire (AGQ). Pada alat ukur AGQ terdapat 4 dimensi yaitu: mastery-approach (MAP), mastery-avoidance (PAV), performance-approach (PAP), dan performance-avoidance (MAV). MAP mempresentasikan usaha untuk mencapai penguasaan suatu tugas; PAV mempresentasikan individu berusaha agar tidak gagal dalam menguasai suatu tugas atau usaha individu agar tidak kehilangan kemampuan, keterampilan dan pengetahuan; PAP mempresentasikan usaha individu untuk lebih baik dari orang lain; dan MAV mempresentasikan individu berusaha dalam menghindari atau tidak melakukan hal yang buruk dibandingkan orang lain.
Pada tahun 2010, Hulleman, dkk. merevieu ulang seluruh pengukuran achievement goal dengan metode meta-analysis. Pada penelitiannya, pengukuran tersebut direvieu dari beberapa konsep literatur. Hasilnya, terdapat 59 item dan 4 dimensi yang diukur. Kesimpulannya, meski seluruh penelitian mengembangkan konstruk yang berbeda, pada akhirnya menjelaskan label yang sama, yaitu tentang achievement goal orientation.
Pengukuran
Pengukuran Achievement Goal Orientation

No
Pengembang (Tahun)
Nama Skala
Konteks
Dimensi (Item)
1
Duda et.al. (1992)
Achievement goal orientation
Pendidikan
Ego (8), Task (8)
2
Button et.al. (1996)
Goal orientation in organization
Organisasi
Performance (10), Learning (10 )
3
Vandewalle (1997)
Work domain goal orientation
Organisasi
Learning (6), Prove (5), Avoid (5)
4
Skaalvik (1997)
Goal orientation scale
Pendidikan
Task (6), Self-enhancing (5), Self-defeating (7), Avoidance (4)
5
Anderman & Johnston (1998)
Motivation goal learning
Pendidikan
Mastery (4), Performance extrinsic(4), Relative ability (3)
6
Midgley et.al. (1998, 2000) 
Achievement goals orientation (AGO)
Pendidikan
Mastery (5) , PAp (5), PAv (4)
7
Elliot et.al. (1997 - 2008)
2 x 2 Achievement goals questionnaire
Pendidikan
PAp (3), PAv (3), MAp (3), MAv (3)
8
Grant & Dweck (2003)
Achievement goal inventory
Pendidikan
Outcome (3), Ability (3), Normative (6), Learning (6)
9
Middleton et.al. (2004)
Achievement goals
Pendidikan/ matematika
Task (5), PAp (5), PAv, (6)
10
Carr (2006)
Achievement goals for physical edu
Pendidikan
Mastery (5), PAp (5), PAv (5)
11
Bong (2009)
Achievement goals scale
Pendidikan/ matematika
MAp (6), PAp (5), PAv (6), MAv (6)
Ket. PAp: performance-approach goal, PAv: performance-avoidance goal, MAp: mastery-approach goal, MAv: mastery-avoidance goal



Komentar

Postingan Populer