Moral Virtues (kebajikan moral)
Moral Virtues (kebajikan moral)
Definisi Moral Virtue
Virtue (Latin:
virtus, bahasa Yunani: arête)
adalah moral yang sangat baik. Menurut Aristoteles dalam buku Nicomachean Ethics
(terj: Ross
& Lesley, 2009), kebajikan adalah sifat pikiran atau karakter yang membantu
kita mencapai kehidupan yang baik, yang Aristoteles berpendapat adalah hidup
sesuai dengan alasan. moral virtue
adalah hasil dari kebiasaan (habit) dan merupakan bagian dari karakter bukan
hasrat (passion) maupun kapasitas.
Menurut Ross &
Lesley (2009), hasrat yang
dimaksud adalah nafsu makan, marah, takut, nyaman, cemburu, gembira, perasaan
ramah, benci, bijaksana kasih dan perasaan yang disertai oleh kesenangan tau
rasa sakit; kapasitas merupakan sesuatu di dalam virtue untuk merasakan
sesuatu, contohnya setelah marah akan merasa sakit atau kesihan; Karakter merupakan baik atau buruk yang
bersumber dari hasrat (passion). Virtue lawan dari vice (keburukan/jahat).
Menurut Cawley III, Martin, dan Johnson (2000) kebajikan berarti keterampilan hidup yang butuhkan manusia untuk mencapai
potensi tertinggi. Misalnya, bersabar.
Kebajikan moral Aristotle
Aristotle mendefinisikan kebajikan
moral sebagai sebuah karakter pada diri seseorang (Ross &
Lesley, 2009). Aristotle membagi kebajikan moral ke dalam 5 hal, yaitu:
1. kebajikan
berkaitan dengan uang
a. Liberality (kerelaan hati) maksudnya bahwa
orang yang memiliki kekayaan atau kekuasaan memberikan sebagian hartanya
(royal) bukan untuk dipuji namun hanya untuk sebagai rasa hormat.
b. Magnificence (kedudukan)
Segala perbuatan yang berkaitan dengan kekayaan
yang mengarah ke anggaran/pengeluaran dan melebihi dari skala liberality. For the magnificent man is liberal, but the liberal man is
not necessarily magnificent.
Orang-orang yang memiliki kedudukan seeperti artis.
2. kebajiakan
pada pergaulan sosial
a. Friendliness
(ramah-tamah)
Dalam
keramah-tamahan akan menciptakan kepedulian untuk kedekatan dan untuk kekuatan
pada orang-orang. Sifat ini berasosiasi tinggi pada orang-orang di jalan yang
benar. Misalnya, orang-orang yang dihormati dan bijaksana agar tercapai
keharmonisan serta kenyamanan dalam kehidupan sosial.
b. Ready wit
(orang yang jenaka)
Aktivitas yang
baik disaat bersaitai dan mengisi waktu luang dengan hiburan. Ini berguna untuk
mengeratkan pergaulan yang penuh rasa. Misalkan dengan berkata humor yang
bertujuan untuk mengindari rasa sakit dengan mentertawakan suatu objek.
3. Kebajikan terkait dengan kehormatan
Pride
(kebanggaan)
kebanggan
terkait dengan sesuatu yang besar. Untuk menjadi manusia yang bangga, dengan
cara menjadi orang yang berjasa besar atau berguna bagi banyak orang.
4.
Kebajikan berkaitan dengan kemarahan
a. Good temper
(watak baik)
orang yang
marah dengan kebenaran dan dengan orang yang benar dan tepat untuk membuat
orang tersebut lebih baik. Namun, orang yang pemarah biasanya hanya bisa
mendikte dan marah yang baik itu tidak dendam melainkan membuat maksud sesuatu.
5. A
quasi-virtue
Shame (rasa
malu)
Rasa malu
sebenarnya tidak diuraikan seperti sebuah kebajikan tapi lebih seperti passion
(gairah) dibandingkan sebuah keadaan karakter. Rasa malu ini didefinisikan
sebagai penyimpangan akan ketakutan pada hal yang memalukan, berbahaya,
mengandung aib, dan sesuatu yang menggemparkan. Ini menjadi kondisi indra tubuh
yang mana berpikir untuk karakteristik pada passioan dibandingkan suatu keadaan
pada karakter.
Tabel 1. Karakteristik moral virtue*
No
|
Karakteristik moral virtues
|
1.
2.
3.
4.
5.
6.
7.
8.
9.
|
Keberanian dan pengawasan diri (NE III.6-9)
kesederhanaan dan Inkontinensia (NE III.10-12)
Liberal dan Benevolence (perbuatan baik) (NE IV.1)
kedudukan dan Kebajikan yang heroik (NE IV.2)
Megalopsychia dan Ambisi Tepat Guna (NE IV.3-4)
Tempramen baik dan
Pengampunan (NE IV.5)
Jenaka dan melukai (NE IV.8)
Keramahan dan kesopanan (NE IV.6)
Truthfulness dan Integritas (NE IV.7)
|
* Curzer (2012) dalam buku
Aristotle and the virtue
Pendekatan kebajikan untuk
kepribadian
Cawley III, Martin, dan Johnson
(2000) meneliti struktur kebajikan melalui pengembangan dan membangun virtues
scale (VS). Mereka mengkonstruksi 140 item yang mengukur kebajikan dari 390
partisipan. Akhirnya dalam penelitian tersebut di dapat empat faktor yaitu
empati, tatatertib, berakal, dan ketentraman yang saling berkorelasi tinggi
dengan kepribadian (NEO PI-R).
Kasus empiris lain untuk kestabilan karakter dari penelitian
mengenai dimensi Big Five personality, yang menunjukkan konsistensi secara lintas
situasional dan memprediksi perilaku di dunia nyata (Costa & McRae, 1988).
Walaupun hanya satu dimensi yang signifikan yaitu conscientiousness yang berimplikasi
terhadap moral dalam hidup dan bekerja. Hogan (2005) menemukan, misalnya, bahwa
kesadaran memprediksi kepemimpinan dan kinerja kerja.
Tabel 2. Empat faktor kebajikan
Cawley dkk
Faktor I
Empati (empathy)
|
Faktor II
Tatatertib (order)
|
Faktor III
berakal (resourceful)
|
Faktor IV
ketenangan (serenity)
|
Empathy
Concern
Understanding
Considerate
Friendly
Sympathy
Affable
Sensitive
Charity
Compassion
Liberal
Gracious
Courtesy
|
Order
Discipline
Serious
Decent
Deliberate
Scrupulous
Earnest
Self-control
Self-denial
Abstinence
Obedient
Conservative
Cautious
Careful
Tidy
Austere
Clean
|
Resourceful
Purposeful
Perseverance
Persistence
Confidence
Sagacity
Self-esteem
Fortitude
Intelligence
Zealous
Independent
|
Serene
Meek
Forbearance
Forgiveness
Peaceful
Patient
Merciful
|
Berikut
adalah beberapa contoh di mana berlatih kebajikan dalam situasi tertentu
membentuk suatu hasil:
§ Disiplin memungkinkan seseorang untuk mencapai tujuan dan
menciptakan kesehatan yang lebih baik.
§ Kasih terhadap
seseorang yang mengalami hari yang buruk dapat membuat dia atau tersenyum dan
membangun hubungan.
§ Kreativitas dapat menghasilkan ide yang mengubah cara orang
berhubungan satu sama lain seperti media sosial.
§ Kepercayaan dalam suatu hubungan menumbuhkan ketergantungan
dan keintiman, menciptakan berharga, hubungan yang bermakna.
§ Syukur pada
hilangnya pekerjaan dapat mengalihkan fokus kita dari perasaan rendah untuk
bagaimana kita dapat memiliki baru, karier yang lebih memuaskan.
§ Pelayanan kepada orang lain dapat mengubah hidup,
lingkungan yang lebih baik dan menciptakan negara kuat.
Apakah bersyukur sebuah kebajikan moral?
Pertanyaan ini penulis dapatkan dalam sebuah jurnal yang ditulis
oleh David Carr pada tahun 2014. Menurut Carr (2014) syukur diidentifikasikan
sebagai emosi, disposisi, sifat, sikap, kewajiban, balas budi. Syukur dalam
pandangan psikologi positif menganggap bahwa orang yang bersyukur akan
mempengaruhi kesejahteraan yang mendorong menjadi pribadi yang menyenangkan dan
optimis.
Carr (2014) pun
tidak meremehkan atau menyangkal manfaat psikologis, sosial, spiritual dan
lain-lain. Syukur menjadi moral virtue karena memberikan manfaat interinsik dan
ektrinsik seperti kejujuran, keadilan atau kebajikan.
Komentar