SYUKUR
SYUKUR
1. Pengertian Syukur
Kata syukur yang dikutip oleh Ida Fitri Shobihah
dalam Kamus Kontemporer Arab-Indonesia, berasal dari bahasa arab dengan kata
dasar “syakara” yang artinya berterima kasih, bentuk masdar dari kalimat ini
adalah syukr, syukraan yang artinya rasa terima kasih. Menurut sebagian ulama, Syukur berasal dari
kata “syakara”, yang artinya membuka atau menampakkan. Jadi, hakikat syukur
adalah menampakkan nikmat Allah swt yang dikaruniakan padanya, baik dengan cara
menyebut nikmat tersebut atau dengan cara mempergunakannya di jalan yang
dikehendaki oleh Alah swt.
Syukur berarti
berterima kasih kepada kepada Allah Swt. Sedangkan dalam Kamus Bahasa
Indonesia berarti ucapan dari perasaan senang, bahagia, melegakan ketika
mengalami suatu kejadian yang baik. Secara istilah, Syukur merupakan suatu tindakan,
ucapan, perasaan senang, bahagia, lega atas nikmat yang telah dirasakan,
didapatkan, dari Allah Swt.
Menurut
Ridwan Asy-Syirbaani, syukur adalah ungkapan rasa terima kasih atas nikmat
(karunia) yang telah diberikan Allah SWT dalam bentuk keyakinan, ucapan, dan
tindakan. Untuk itu seorang yang baik hendaknya bisa mentasyaruf (memanfaatkan
nikmat yang telah dikaruniakan oleh Allah SWT sesuai dengan aturan atau
ketentuan yang telah digariskan oleh Allah SWT dan tidak untuk memuasakan hawa
nafsunya.
Secara bahasa syukur
adalah pujian kepada yang telah berbuat baik atas apa yang dilakukan kepadanya. Syukur adalah
kebalikan dari kufur. Hakikat syukur adalah menampakkan nikmat, sedangkan
hakikat kekufuraan adalah menyembunyikannya. Menampakkan nikmat antara lain
berarti menggunakannya pada tempat dan sesuai dengan yang dikehendaki oleh
pemberinya, juga menyebut-nyebut nikmat dan pemberinya dengan lidah Banyak
nikmat yang telah kita terima dari Allah Swt. yang apabila kita mencoba
menghitungnya pasti tidak bisa mengetahui jumlahnya. Hal tersebut telah
ditegaskan dalam firman-Nya (Shihab, 1996).
Menurut Mustafa Zahri
(1998) syukur adalah keadaan seseorang dalam mempergunakan nikmat yang
diberikan oleh Allah Swt kepada kebajikan. Satyawan (2009) bersyukur merupakan
menerima dengan sadar anugrah Allah dan menggunakan sesuai dengan yang
dikehendakiNya. Khomeini (2004) mengatakan syukur adalah penghargaan
nikmat-nikmat Allah, dan makna ini tampak dalam wilayah hati dalam suatu bentuk,
dan pada lisan. Emmons (2007) bersyukur merupakan hasil positif yang muncul
dari orang lain, baik diluar kemapuan melalui perbuatan atau peristiwa.
Imam ibnu Qoyyim
(2004) berpendapat bahwa syukur diaplikasikan dengan hati dengan cara mencintai
Allah dan kembali kepadaNya, dan dilakukan dengan anggota badan dengan cara
menaati dan mematuhi-Nya serta dilaksanakan dengan lisan dengan cara memuji dan
menyanjung-Nya. Menurut Imam al-Ghazali, dalam bukunya Ihya' Ulumuddin
mendefinisikan syukur dgn memanfaatkan potensi anugerah yg Allah berikan bagi
terlaksananya amal kebaikan dan tercegahnya kemungkaran. Sedangkan menurut Imam ar-Raghib
menjelaskan syukur nikmat adlah senantiasa mengingat dan mengungkapkan nikmat,
yaitu mengaplikasikan dgn bentuk yg di ridai Allah SWT. Sebaliknya, kufur
nikmat adalah melupakan dan menutupi nikmat
Menurut istilah syara’, syukur adalah
pengakuan terhadap nikmat yang diberikan oleh Allah swt dengan disertai
ketundukan kepada-Nya dan mempergunakan nikmat tersebut sesuai dengan kehendak
Allah swt.
Dan jika kamu menghitung-hitung nikmat Allah, niscaya
kamu tak dapat menentukan jumlahnya. Sesungguhnya Allah benar-benar Maha
Pengampun lagi Maha Penyayang. (QS. An-Nal [16] : 18)
Allah telah memerintahkan syukur atas nikmat-nikmat
yang telah diberikan.
Menurut Emmons &
McCullough, 2004), bersyukur terdiri dari tiga hal yaitu emosi, keutamaan, dan
trait. Berikut penjelasannya:
- Gratitude sebagai emosi
Merupakan
keadaan terkait atribusi yang dihasilkan dari dua tahap proses kognitif.
Pertama, individu menyadari bahwa ia mendapat keuntungan/manfaat positif.
kemudian, individu menyadari bahwa terdapat sumber eksternal dari keuntungan
positif yang ia dapatkan.
2. Gratitude sebagai virtue (keutamaan)
Adam
Smith, berpendapat gratitude merupakan keutamaan yang terpenting, penting untuk
fungsi masyarakat yang sehat (Smith, 1976; dalam Solomon).
c 3. Gatitude sebagai affective trait
McCullough,
Emmons, dan Tsang (2002) menggunakan grateful disposition sebagai istilah untuk
affective trait. Merekan berpendapat kecenderungan menetap untuk mengenali dan
merespon secara positif emosi gratitude, atas kebaikan dan manfaat yang
didapatkan dari orang lain
2. Bentuk-Bentuk Syukur
Mengacu kepada pengertian iman, yaitu membenarkan
dengan hati, mengucapkan dengan lisan dan membuktikan dengan amal perbuatan,
maka bentuk syukur juga ada tiga, yaitu:
1. Bersyukur dengan hati, yaitu mengakui dan menyadari
dengan sepenuh bahwa segala nikmat yang diperoleh berasal dari Allah Swt. dan
tiada seseorang pun selain Allah Swt. yang dapat memberikan nikmat itu.
Bersyukur dengan hati juga berupa rasa gembira dan rasa terhadap nikmat yang
telah diterimanya.
2.
Bersyukur dengan lisan, yaitu mengucapkan secara jelas ungkapan
rasa syukur itu dengan kalimat hamdalah. Bahkan ada beberapa doa yang
diajarkan oleh rasul sebagai ungkapan syukur atas nikmat tertentu, misalnya doa
setelah makan, doa bangun tidur, doa selesai buang hajat dan lain sebagainya.
3. Bersyukur dengan amal perbuatan, yaitu menggunakan
nikmat yang telah Allah berikan.
Misalnya menggunakan anggota tubuh untuk melakukan hal-hal yang baik. Misalnya:
Menggunakan anggota tubuh untuk
melakukan hal-hal yang positif dan
diridhai Allah Swt.
Jika
seseorang memperoleh nikmat harta benda, maka ia mempergunakan harta itu sesuai
dengan jalan Allah Swt.
Jika nikmat yang diperolehnya berupa ilmu
pengetahuan, ia akan memanfaatkan ilmu itu untuk keselamatan, kebahagian, dan
kesejahteraan manusia dan diajarkan kepada orang lain; bukan sebaliknya, ilmu
yang diperoleh digunakan untuk membinasakan dan menghancurkan kehidupan
manusia.
Menurut Peterson dan Seligman (2004) syukur
(gratitude) dibagi menjadi 2 yaitu:
a. Bersyukur secara personal
Ditunjukkan
kepada orang yang telah memberikan keuntungan kepada penerima atau diri
sendiri.
b. Bersyukur secara Transpersonal
Ditunjukkan
kepada Tuhan, kekuatan yang lebih besar, atau alam semesta. Bentuk dasarnya
dapat berupa pengalaman puncak (peak experience) kekhusyuan.
3.
Hakikat Syukur
Imam Ghazali menjelaskan bahwa syukur tersusun
atas tiga perkara, yakni:
a.
Ilmu, yaitu pengetahuan tentang nikmat dan pemberinya, serta
meyakini bahwa semua nikmat berasal dari Allah swt dan yang lain hanya sebagai perantara untuk sampainya nikmat, sehingga
akan selalu memuji Allah swt dan tidak akan muncul keinginan memuji yang lain.
Sedangkan gerak lidah dalam memuji-Nya hanya sebagai tanda keyakinan.
b.
Hal
(kondisi spiritual), yaitu karena pengetahuan dan keyakinan tadi melahirkan
jiwa yang tentram. Membuatnya senantiasa senang dan mencintai yang memberi
nikmat, dalam bentuk ketundukan, kepatuhan. Men-syukur-i nikmat bukan
hanya dengan menyenangi nikmat tersebut melainkan juga dengan mencintai yang
memberi nikmat yaitu Allah swt.
c. Amal perbuatan, ini berkaitan dengan hati, lisan, dan
anggota badan, yaitu hati yang berkeinginan untuk melakukan kebaikan, lisan
yang menampakkan rasa syukur dengan pujian kepada Allah swt dan anggota
badan yang menggunakan nikmat-nikmat Allah swt dengan melaksanakan perintah
Allah swt dan menjauhi larangan-Nya.
Sementara itu Imam Al-Ghazali menegaskan bahwa
mensyukuri anggota tubuh yang diberikan Allah Swt. meliputi 7 anggota badan
yang penting
- Mata, mensyukuri nikmat ini dengan tidak mempergunakannya untuk melihat hal-hal yang maksiat;
- Telinga, digunakan hanya untuk mendengarkan hal-hal yang baik dan tidak mempergunakannya untuk hal-hal yang tidak boleh didengar;
- Lidah, dengan banyak mengucapkan zikir, mengucapkan puji-pujian kepada Allah Swt. Dan mengungkapkan nikmat-nikmat yang diberikan.
- Tangan, digunakan untuk melakukan kebaikan-kebaikan terutama untuk diri sendiri, maupun untuk orang lain, dan tidak mempergunakannya untuk melakukan hal-hal yang haram;
- Perut, dipakai hanya untuk memakan makanan yang halal/baik dan tidak berlebih-lebihan (mubazir). Makanan itu dimakan sekadar untuk menguatkan tubuh terutama untuk beribadah kepada Allah Swt.;
- Kemaluan, dijaga kehormatan dari hal-hal yang dilarang oleh Allah seperti zina dan pergaulan bebas.
- Kaki, digunakan untuk berjalan ke tempat-tempat yang baik, seperti ke masjid, naik haji ke Baitullah (Ka’bah), mencari rezeki yang halal, dan menolong sesama umat manusia.
4. Ayat
mengenai syukur
Al-A’raaf: 179
وَلَقَدْ ذَرَأْنَا لِجَهَنَّمَ كَثِيرًا
مِنَ الْجِنِّ وَالْإِنْسِ ۖ لَهُمْ قُلُوبٌ لَا يَفْقَهُونَ بِهَا وَلَهُمْ
أَعْيُنٌ لَا يُبْصِرُونَ بِهَا وَلَهُمْ آذَانٌ لَا يَسْمَعُونَ بِهَا ۚ
أُولَٰئِكَ كَالْأَنْعَامِ بَلْ هُمْ أَضَلُّ ۚ أُولَٰئِكَ هُمُ الْغَافِلُونَ
“Dan
sesungguhnya Kami jadikan untuk (isi neraka Jahannam) kebanyakan dari jin dan
manusia, mereka mempunyai hati, tetapi tidak dipergunakannya untuk memahami (ayat-ayat
Allah) dan mereka mempunyai mata (tetapi) tidak dipergunakannya untuk melihat
(tanda-tanda kekuasaan Allah), dan mereka mempunyai telinga (tetapi) tidak
dipergunakannya untuk mendengar (ayat-ayat Allah). Mereka itu sebagai binatang
ternak, bahkan mereka lebih sesat lagi. Mereka itulah orang-orang yang lalai.”
Al-Mu’minun:
78
وَهُوَ الَّذِي أَنْشَأَ لَكُمُ
السَّمْعَ وَالْأَبْصَارَ وَالْأَفْئِدَةَ ۚ قَلِيلًا مَا تَشْكُرُونَ
“Dan Dialah yang telah menciptakan bagi kamu
sekalian, pendengaran, penglihatan dan hati. Amat sedikitlah kamu bersyukur.”
As-Sajadah: 9
ثُمَّ سَوَّاهُ وَنَفَخَ فِيهِ مِنْ
رُوحِهِ ۖوَجَعَلَ لَكُمُ السَّمْعَ وَالْأَبْصَارَ وَالْأَفْئِدَةَ ۚقَلِيلًا مَا
تَشْكُرُونَ
“Kemudian Dia menyempurnakan dan meniupkan ke
dalam (tubuh) nya roh (ciptaan) -Nya dan Dia menjadikan bagi kamu pendengaran,
penglihatan dan hati; (tetapi) kamu sedikit sekali bersyukur.”
Hikmah dan Manfaat Syukur
a. Membuat seseorang bahagia karena apa yang ia dapatkan
akan membawa
manfaat bagi ia dan orang-orang sekitarnya.
b.
Allah akan menambah nikmat yang ia peroleh sesuai dengan
janji Allah Swt. dan akan terhindar dari
siksa yang amat pedih.
Dan (ingatlah juga), tatkala Tuhanmu
memaklumkan;«Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah
(nikmat) kepadamu, dan jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), Maka Sesungguhnya
azab-Ku sangat pedih”. (QS.
Ibrahim [14] : 7)
c. Orang yang pandai bersyukur akan disukai oleh banyak
orang, karena ia adalah orang yang pandai berterima kasih terhadap sesama.
Komentar