Tawakal
TAWAKAL
2.1 Pengertian
tawakal
Tawakal berasal dari
kata “wakaalah atau wikaalah” yang berarti ketidak mampuan
dan bersandar atau pasrah kepada orang lain. Kata kerja asalnya adalah wakalah
yang kemudian lebih lazim memakai wazan tawakala
– tawakkulan yang berarti menyerahkan, menyandarkan, mewakilkan dan
mempercayakannya urusan pada pihak lain.
Tawakal berarti
mempercayakan hasil akhir sebuah urusan kepada Allah. Tawakkal ialah ketika
kita hanya percaya pada Allah. Ketika kita sadar bahwa tidak ada sesuatu yang
terjadi kecuali atas kehendak Allah Swt, dan apaun yang terjadi, semuanya
karena kebijaksanaan Allah. Tawakal ialah ketika kita beriman dan yakin
seyakin-yakinnya dengan segala keputusan yang diberikan Allah kepada kita.
Imam al-Ghazali
mendefinisikan tawakal sebagi penyandaran diri kepada Allah Swt sebagi
satu-satunya al-wakiil (tempat
bersandar) dalam menghadapi setiap kepentingan, bersandar kepada-Nya pada saat
menghadapi kesukaran, teguh hati ketika ditimpa bencana, dengan jiwa yang
tenang dan hati yang tentram.
Mudahnya, tawakal
adalah ketika kita mengikat diri dan hati kita hanya kepada Allah, dan pasrah
dengan takdir-Nya. Seorang yang tawakal sadar bahwa tidak ada kekuatan untuk
memperoleh kebaikan, atau menghindari perbuatan jahat, kecuali atas izin Allah,
dan semua berkah dan bencana adalah akibat daari keputusan Allah Swt.
Imam Ghazali membagi istilah pada 3 level
berbeda. tawakal untuk kelompok awam
atau manusia biasa. Taslim (menyerahkan kendali kepada Allah) untuk kelompok
khashah. Tafwidh (menyerahkan sepenuhnya keputusan kepada Allah) dipakai untuk
kelompok khawash al-khawas.
2.1a
Tawakal
Diartikan
sebagai tawakal pada maqam atau tingkat awal. Imam Ghazali mencontohkan tawakal
pada tingkat ini, ibarat tawakalnya seorang kepada wakilnya karena ia yakin
bahwa wakilnya dapat dipercaya dan dapat mengurus persoalannya. Karena
keyakinan dan kepercayaan inilah yang menyebabkan ia menyerahkan urusan kepada
wakilnya.
2.1b
Taslim
Diartikan
sebagai tawkal pada tingkat menengah. Pada tingkat ini. Tawakal hanya diperoleh
oleh orang-orang tertentu atau khusus (khashshah), mereka adalah wali Allah.
Tawakal menurut Abu Yaqub naluri sbagai tawakal seseorang yang memiliki
kesempurnaan mental. Dicontohkan oleh Nabi Ibrahim tatkala dirinya diikat dan
siap dilemparkan ke dalam api yang menyala di hadapannya. Kemudian, Malaikat
bertanya kepadanya, “wahai Ibrahim, apa yang bisa dilakukan untukmu?” Ibrahim
menjawab, “Adapun kepadamu, aku tidak mengharap apa-apa. Namun, kepada Tuhanku,
aku serahkan segala urusanku.”
Demikian,
tawakal bagi orang khashah diwujudkan dalam bentuk menyerahkan urusan kepada
Allah Swt karena ia mengetahui segala sesuatu mengenai diri dan keadaannya.
2.1c
Tafwidh
Diartiakan
sebagai tawakal tingkatan tertinggi. Dimiliki hanya kelompok Khawash
al-khawash, seperti Rasulullah Saw. Bentuk tawakal pada tingkat ini adalah
adanya ridha atau rela menerima sgala ketentuan Allah Swt dalam segala keadaan.
Seperti dalam cerita tentang tawaran Jibril kepada Rasulullah Saw untuk
menjadikan Gunung Uhud menjadi emas, tetapi ditolaknya. Ini menunjukan bahwa
Rasulullah saw lebih ridha dan rela menerima ketentuan Allah Swt. Tidak ada
kekhawatiran atau ketakutan adanya hambatan secara ekonomi dalam perjuangan
mengemban risalah Illahi. Raasulullah Saw tidak pula mengharapkan imbalan
berupa kekayaan untuk dirinya dari Allah agar lebih dihargai oleh kaumnya dan
mempelancar perjuangannya.
Bagi kita, yang
terpenting adalah proses dan janganlah mandeg (berhenti, stagnan). Kalau sementara
ini kita masih level awam, kita mesti terus beruasah agar level kita terus
meningkat. Jangan berpuas diri dengan yang kita miliki.
2.2 Tawakal
yang Benar
Tawakal yang benar yaitu penyandaran
diri kepada Allah Swt dalam menghadapi setiap kepentingan kesukaran, teguh hati
ketika ditimpa bencana, dengan jiwa yang tenang dan hati yang tentram dan
kesemuanya itu harus didahului dengan usaha dan ikhtiar.
Tawakal tidak mungkin tercapai oleh
hamba yang tidak memiliki keimanan kepada Allah Swt. Tawakal bukanlah sikap
pasif, statis, malas, hanya menuggu, enggan bekerja atau bekerja alakadarnya
yang tidak setimpal dengan harapan atau kebutuhan yang diinginkan. Dengan kata
lain, tawakal bukan pasrah.
Allah berfirman dalam surah Asy-Syura:
36
36. Maka sesuatu yang diberikan kepadamu, itu adalah
keni'matan hidup di dunia; dan yang ada pada sisi Allah lebih baik dan lebih
kekal bagi orang-orang yang beriman, dan hanya kepada Tuhan mereka, mereka
bertawakkal.
Tawakal
berarti (tetap) menjalankan sarana kondusif seganap anggota fisik sambil
memutuskan dari hati. Tawakkal diambil dari salah satu Asma’ul husana
“al-Wakil”.
Al-wakil adalah yang menangani segala
urusan hamba-hambanya dengan kebaikan-Nya. Dia tidak mnelantarkan dan
menyerahkan mereka ke jurang keburukan, akan tetapi Dia tuntun tangnan mereka
menuju hal-hal yang bermashalahat bagi mereka.
Misalnya, jika kita pergi kepada
seseorang untuk melamar pekerjaan, maka dalam perspektif tawakal kepada
Allah,ketika masuk kita harus meminta kepada Allah, bukan mengemis pada pemilik
perusahaan yang kita datangi. Namun kita tidak boleh menyombongkan dir dan
selalu bersikap sopan.
Hati kita yakin sedalam-dalamnya
bahwa tidak ada seorang pun yang dapat memberi kesuksesan, nasib baik, dan
kesejahteraan kecuali hanya Allah, sehingga kita pun melaksanakan shalat hajat
dua rakaat sebelum berangkat. Hati kita selalu berkait dengan Allah semata
bukan pada orang yang akan memberi pekerjaan atau menemukan jodoh kita, sebab Allah-lah yang
membahagiakan kita.
Serahkan diri dan hati kita kepada
Allah sebagaimana anak kecil yang lemah ini memasrahkan dirinya pada orang
tuanya karana ia yakin mereka tidak akan menyerahkannya kecuali pada kebaikan.
Jangan percaya dengan keberuntungan
Anda, percayalah pada usaha keras dan ketawakalan anda. Tidak mengadakan
ikhtiyar (usaha keras) adalah cacat dalam hukum. Sedangkan mengandalkan usaha
adalah cacat dalam tauhid.
159. Maka disebabkan rahmat dari Allah-lah
kamu berlaku lemah lembut terhadap mereka. Sekiranya kamu bersikap keras lagi
berhati kasar, tentulah mereka menjauhkan diri dari sekelilingmu. Karena itu
ma'afkanlah mereka, mohonkanlah ampun bagi mereka, dan bermusyawaratlah dengan
mereka dalam urusan itu*. Kemudian apabila kamu telah membulatkan tekad, maka
bertawakkallah kepada Allah. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang
bertawakkal kepada-Nya.
*Maksudnya: urusan peperangan dan hal-hal
duniawiyah lainnya, seperti urusan politik, ekonomi, kemasyarakatan dan
lain-lainnya.
160. Jika Allah menolong kamu, maka tak
adalah orang yang dapat mengalahkan kamu; jika Allah membiarkan kamu (tidak
memberi pertolongan), maka siapakah gerangan yang dapat menolong kamu (selain)
dari Allah sesudah itu? Karena itu hendaklah kepada Allah saja orang-orang
mu'min bertawakkal.
2.3 Manfaat
Tawakal
1. Keutamaan
yang langsung dirasakan dalam kehidupan seseorang
a. Ketenangan
jiwa dan kepuasan batin yang dapat menghantarkan kepada kebahagiaan.
b. Mendapatkan
kecukupan hidup.
c.
Allah menjanjikan akan menjamin
rezekinya. Dalam surah Ath-Thalaq: 3 Allah berfirman “… Allah akan memberikan rezeki dari arah yang tidak terduga. Barang siapa
bertawakal kepada Allah mengendalikan segala urusan … “
d. Mendapatkan
keselamatan hidup.
e. Memperkuat dan menumbuhkab keberanian diri.
Allah berfirman, “… berpalinglah kamu
dari mereka (orang-orang munafik) dan tawakkallah kepada Allah. Cukuplah Allah
menjadi pelindung.” (QS An-Nisa:81)
f. Mendapatkan
kesabaran dalam mengejar keinginan, kuat dan teguh dalam menghadapi ujian dan
cobaan.
g. Mendatangkan
pertolongan dari Allah Swt.
2.keutamaan
secara tidak langsung
a. Terlindung
dari godaan iblis dan setan. Allah Swt telah menjnjikan akan melindungi setiap
hamba yang beriman dan bertawakal. Tawakal menjadi benteng bagi setiap mukmin
dari godaan dan hasutan setan.
b. Mendapatkan
cinta Allah Swt. Cinta Allah ini sesuatu yang sangat mahal dan harganya. Tidak
sembarang orang bisa meraihnya.
c. Tawakal
dapat mencegah dari azab Allah Swt dari siksa yang sangat pedih.
d. Menjadi
sebab masuk surga.
Daftar pustaka:
Sirsaeba,
Anif. 2007 . Berani Kaya, Berani Takwa. (cet V). Republika: semarang
Supriyanto.
2010. Tawakal Bukan Pasrah!. PT AgroMedia Pustaka: Jakarta
Khaleed,
Amru. 2005. Terapi Hati. Republika: Jakarta
Komentar