KECERDASAN EMOSI
Kecerdasan Emosi
1. Pengertian
kecerdasan emosi
Menurut Mayer dan Salovey (1993; Salovey
& Mayer, 1990) kecerdasan emosional mengarah pada kemampuan untuk memonitor
perasaan dan emosi dirinya dan orang lain, untuk mendiskriminasi dan menggunakan
informasi untuk mengarahkan pemikiran dan perbuatan.
Mayer
dan Salovey (1997) merevisi definisi kecerdasan emosi. Kecerdasan emosi
merupakan kecerdasan yang melibatkan kemampuan untuk memahami secara akurat,
menilai, dan mengekspresikan emosi; kemampuan untuk mengakses dan menghasilkan
perasaan ketika mereka memfasilitasi pemikiran; kemampuan untuk memahami emosi
dan pengetahuan emosional; serta kemampuan untuk mengatur emosi reflektif
dengan cara yang mendorong pertumbuhan emosional dan intelektual.
Kecerdasan
emosi merupakan perbedaan individual dalam kemampuan yang mana dapat
mengidetifikasikan perasaan pribadinya dan orang lain, meregulasi perasaan
tersebut dan menggunakan informasi untuk memotivasi perilaku adaptif (Salovey,
Stroud, Woolery, &; Epel, 2002).
2.
Konsep kecerdasan emosi
Ada 4 Konsep kecerdasan emosi menurut Mayer
dan Salovey (1997; Salovey, Woolery, &
Mayer, 2001) yaitu sebagai berikut:
1.
Persepsi, penilaian,
dan ekspresi emosi
- a. Kemampuan untuk mengidentifikasikan emosi pada salah satu keadaan fisik, perasaan, dan pikiran.
- b. Kemampuan untuk mengidentifikasi emosi-emosi pada orang lain, pola-pola, karya seni dan lain-lain melalui berbahasa, bersuara, berpenampilan, dan berperilaku.
- c. Kemampuan untuk mengekspresikan emosi secara akurat dan untuk mengekspresikan kebutuhan yang berhubungan dengan perasaan.
- d. Kemampuan untuk mendiskriminasikan (membedakan) antara keakuratan dan ketidakakuratan serta mengekspresikan perasaan secara jujur atau tidak.
- a. Memprioritaskan berpikir emosi dengan mengarahkan perhatian pada informasi yang penting.
- b. Emosi yang cukup jelas dan yang tersedia dapat dihasilkan sebagai alat bantu untuk memutuskan dan ingatan tentang perasaan.
- c. Perubahan suasana hati yang emosional mengubah perspektif individu dari optimis ke pesimis, mendorong untuk pertimbangan berbagai sudut pandang.
- d. Keadaan emosional secara diferensial mendorong masalah dengan pendekatan-pendekatan khusus seperti ketika kebahagiaan memudahkan penalaran induktif dan kreativitas.
- a. Kemampuan untuk melabelkan emosi dan mengenali hubungan antara kata-kata dan emosi, seperti hubungan antara keinginan dan cinta.
- b. Kemampuan untuk menafsirkan makna bahwa penyampaian mengenai hubungan, seperti kesedihan disertai dengan kerugian.
- c. Kemampuan untuk memahami perasaan yang kompleks, perasaan cinta yang simultan dan benci atau percampuran seperti kagum sebagai kombinasi rasa takut dan terkejut.
- d. Kemampuan untuk mengenali kemungkinan transisi antara emosi, seperti transisi dari kemarahan untuk kepuasan atau dari kemarahan ke rasa malu.
- a. Kemampuan untuk tetap terbuka pada perasaan, baik yang menyenangkan dan yang tidak menyenangkan.
- b. Kemampuan untuk merefleksikan keterlibat atau melepaskan diri dari ketergantungan emosi pada kurangnya informasi yang dinilai atau yang bermanfaat.
- c. Kemampuan untuk memonitor emosi di dalam hubungan dengan diri sendiri dan orang lain, seperti mengenali seberapa jelas, khas, berpengaruh, serta pola pikir mereka.
- d. Kemampuan untuk mengelola emosi dalam diri sendiri dan orang lain dengan memoderator emosi negatif dan meningkatkan kesenangan tanpa menekan atau melebih-lebihkan informasi yang mereka dapat sampaikan.
Dari
konsep kecerdasan emosi yang telah dijelaskan, dapat disimpulkan bahwa kecerdasan
emosi merupakan kemampuan individu dalam mengidentifikasi, mengekspresikan, memfasilitasi,
memahami, dan meregulasi perasaan dan emosi untuk memotivasi perilaku adiktif
serta memoderatorkan dampak negatif dari perasaan dan emosi tersebut
berdasarkan informasi-informasi atau pengetahuan.
2.2.3.
Dimensi kecerdasan emosi
Berdasarkan dari
keempat konsep kecerdasan emosional yang telah dijelaskan, menurut Salovey et al. (1995, 2002) terdapat 3 dimensi kecerdasan
emosi yaitu:
1.
Attention
merupakan perhatian pada perasaan,
kemampuan untuk menghadirkan suasana hati (mood) dan emosi.
2.
Clarity
merupakan kejernihan dalam mendiskriminasikan perasaan, kemampuan untuk menjernihkan
perasaan yang terdiskriminasi.
3.
Repair
merupakan kemampuan untuk memperbaiki keadaan suasana hati. Misalnya, selalu
berpkiran positif dan berpandangan optimis.
2.2.4. Pengukuran
kecerdasan emosi
Berdasarkan penelusuran peneliti
terhadap alat ukur kecerdasan emosi, peneliti mendapatkan alat ukur yang dapat
digunakan dalam pengukuran kecerdasan emosi sebagai berikut:
1. Trait Meta-Mood Scale (TMMS)
Menurut Salovey et al. (1995)
TMSS untuk mengukur secara relatif kestabilan perbedaan individual dalam kecenderungan
seseorang untuk memberikan perhatian pada suasana hati, emosi, mendiskriminasikan
secara jelas, dan meregulasinya. TMSS dibagi menjadi tiga faktor skala yang
mencakup 48 item secara keseluruhan; skala pertama (Attention) 21 item, skala kedua (clarity) 15 item, dan skala ketiga (repair) 12 item. Internal
konsistensi pada ketiga skala tersebut menghasilkan koefisien alpha Cronbach untuk masing-masing skala
adalah Attention: α = .86, Clarity: α = .87, dan Repair: α = .82. Dari 48 item dikonstruk
menjadi 30 item (short-form) skala
pertama 13 item (Attention), skala
kedua 11 item (clarity), dan skala
ketiga 6 item (repair). TMSS 30 item
(short-form), dengan faktor loading
>.40 (koefisien α = .86, .88, .82)
dan goodness-of-fit index menggunakan
program Lisrel sebesar .94.
2.
Self Report Emotional Intelligence Scale (EIS)
EIS dikembangkan oleh Schutte et al.,
(1998) yang diadaptasi dari konsep model Salovey dan Mayer (1990). EIS dibagi
menjadi menjadi 3 skala model yang
mencakup 33 item yaitu 13 item digeneralisasikan dari penilaian dan ekspresi
emosi, 10 item dari regulasi emosi, dan 10 item dari satu kesatuan emosi.
Analisis internal konsistensi menunjukkan alpha Cronbach .90 pada keseluruhan item.
Komentar