Self-efficacy

Self-efficacy
A. Definisi self-efficacy
Self-efficacy merupakan sebuah keyakinan pada salah satu kemampuan untuk menyukseskan perilaku dalam mengerjakan tugas yang spesifik (Bandura, 1977) dan perubahan perilaku (Bandura & Adams, 1977). Dalam teori sosial kognitif, Bandura (1986) menyatakan bahwa self-efficacy ini membantu seseorang dalam menentukan pilihan, usaha mereka untuk maju, kegigihan dan ketekunan yang mereka tunjukkan dalam menghadapi kesulitan, dan derajat kecemasan atau ketenangan yang mereka alami saat mereka mempertahankan tugas-tugas yang mencakupi kehidupan mereka.
Menurut Wood dan Bandura (1989) Self-efficacy didefinisikan sebagai keyakinan dalam kemampuan seseorang untuk memobilisasi (menggerakan) motivasi, sumber daya kognitif, dan tindakan yang diperlukan untuk memenuhi tuntutan situasional yang diberikan. Ketika individu yakin segala sesuatunya maka semakin tercapi segala tujuannya.
Selanjutnya, Bandura (1995) mengemukakan bahwa self-efficacy merupakan persepsi seseorang terhadap kemampuannya untuk menyususun tindakan yang dibutuhkan dalam menyelesaikan tugas-tugas yang dihadapi secara spesifik. Sehingga, keyakinan tersebut mempengaruhi cara berpikir, merasa, motivasi terhadap diri dan tindakan yang dilakukan. Bandura (1997) menambahkan bahwa self-efficacy adalah persepsi individu dalam menguasai situasi dan memperoleh hasil yang positif. Persepsi seseorang dalam memahami kemampuannya untuk mengatur dan melaksanakan perilaku tertentu yang diperlukan untuk menghasilkan pencapaian dari tugas yang dimiliki (Bosscher & Smit, 1998). Menurut Chen, Gully, dan Eden (2001) self-efficacy diartikan sebagai percaya pada kemampuan seseorang dalam mengumpulkan motivasi, sumber daya kognitif, dan cara pemilihan tindakan yang dibutukan agar dapat memenuhi kebutuhan yang sesuai dengan kondisi yang ada.
Larsen dan Buss (2008) menjelaskan bahwa self-efficacy adalah keyakinan seseorang untuk dapat melakukan perilaku yang diperlukan untuk mencapai hasil yang diinginkan. Sedangkan Santrock (2011) mengemukakan bahwa self-efficacy merupakan keyakinan penguasaan salah satu situasi dan menghasilkan hasil yang positif. Self-efficacy menurut American Psychological Assosiation (VandenBos, 2015) merupakan sebuah persepsi subjektif individual mengenai kemampuan yang ditunjukkan dalam merubah suatu keadaan untuk mencapai hasil yang diinginkan.
B. Dimensi self-efficacy
Menurut Bandura (1977, 1982, 1986, 1997 hal 42 ) terdapat tiga dimensi dari self-efficacy, yaitu: magnitude, strength, dan generality. Yang akan dijelaskan sebagai berikut:
1. level/magnitude (tingkatan)
Pada dimensi ini menjelaskan bahwa individu yakin dapat menyelesaikan  berdasarkan tingkat kesulitan dan kompleksitas tugas (rendah, sedang, tinggi). Pada tingakatan ini mempresentasikan derajat kesulitan menyelesaikan tugas yang diberikan. Perbedaan self-efficacy seseorang pada masing-masing individu mungkin dikarenakan membatasi pada tuntutan yang dihadapi. Tuntutan tugas mempresentasikan bermacam-macam tingkat kesulitan atau kesukaran untuk mencapai performa yang optimal. Jika halangan untuk mencapai tuntutan itu sedikit, maka aktivitas lebih mudah dilakukan, sehingga kemudian individu akan memiliki self-efficacy yang tinggi.
2. Strength (kekuatan)
Seberapa tahan individu dapat perform pada tingkat kesulitan dan kompleksitas tugas. Semakin tinggi kekuatan self-efficacy, semakin tinggi kemungkinan berhasil dalam kinerja. Pengalaman memiliki pengaruh terhadap self-efficacy yang diyakini seseorang. Pengalaman yang lemah akan melemahkan keyakinan pula. Individu yang memiliki keyakinan kuat terhadap kemampuan mereka akan teguh dalam berusaha untuk mengenyampingkan kesulitan yang dihadapi.
3. Generality
Individu secara general meyakini kempuannya yang dirasakan baik secara kognitif dan perilaku dikarenakan kesamaan aktivitas. Individu mungkin akan menilai diri merasa dan merasa yakin dapat melalui bermacam-macam aktivitas yang dihadapi. Pada dimensi generality, kebervariasi jumlah hasil dari dimensi ini berbeda-beda. Misalnya, tingkat kesamaan aktivitas, perasaan dimana kemampuan ditunjukkan (tingkah laku, kognitif, afektif), ciri kualitatif situasi, dan karakteristik individu menunju kepada siapa perilaku itu ditujukan. Pengukuran berhubungan dengan daerah aktivitas dan konteks situasi yang menampakkan pola dan tingkat generality yang paling mendasar berkisar tentang apa yang individu susun dan rencanakan pada kehidupan mereka.
C. Konsep general self-efficacy
Konsep general self-efficacy (GSE) didasarkan pada teori sosial kognitif (Bandura 1977, 1997). Walaupun GSE berdasarkan pada teori yang sama, namun konstruk specific self-efficacy (SSE) dan GSE berbeda. SSE didasarkan pada sebuah tugas spesifik (Bandura 1977, 1997) atau domain efficcy (Woodruff & Cashman, 1993) dan state-like construct (Chen et.al., 2000, 2001) dan GSE didasarkan pada global sense (Maddux, 1995; Woodruff & Cashman, 1993) dan trait-like construct (Chen et.al., 2000, 2001).
Maddux (1995) menjelaskan bahwa SSE digunakan pada salah satu general sense pada efektivitas dan kompetensi individu. Namun, istilah self-efficacy lebih digunakan ketika mendefinisikan, operasional, dan pengukuran spesifik pada perilaku pada konteks yang spesifik. Berbeda dengan GSE yang tidak menghasilkan perubahan perilaku yang spesifik namun lebih general.
Menurut Chen et.al. (2001) sebuah tugas yang spesifik atau state-like construct merupakan sebuah tuntutan atau keadaaan individu dimana situasi yang diberikan berfokus pada konstruk penelitian tersebut. State-like construct hanya dibatasi pada dimensi magnitude dan strength serta tujuan mempengaruhi tingkat kinerja individu (Chen et.al. 2000). Misalnya alat ukur yang dibuat Bandura (lihat Bandura, 2006) mengenai Driving self-efficay, Problem solving self-efficacy, dan lain-lain yang menggunakan self-rating dari 0 sampai 100 atau dari “sama sekali tidak bisa melakukan sampai sangat bisa melakukannya”.
Berbeda dengan GSE atau trait-like constuct yang lahir dari dimensi generality pada self-efficay Bandura, yang didefinisikan oleh  Bandura (1977; Bandura et.al., 1980) sebagai persepsi individu untuk mempu melalui berbagai macam aktivitas, tugas dan situasi yang berdasarkan level atau magnitude dan strength. Sherer et.al. (1982) mendefinisikan GSE sebagai sebuah pengalaman sukses dan gagalnya individu pada masa lalu di berbagai macam situasi yang hasilnya mempengaruhi pada situasi yang baru. Kemudian Judge, Erez, et.al., (1998, p. 170) sebagai persepsi individu mengenai kemampuan untuk melewati berbagai macam situasi dan tugas. Definisi yang hampir sama dikemukakan juga oleh Chen et.al. (2001) yang mendefinisikannya sebagai salah satu kenyakinan pada satu dari banyaknya kompetensi yang berakibat pada keberhasilan individu dengan melintasi kebervariasiasian kinerjanya dan situasi.
Tipton dan Worthington (1984) menjelaskan bahwa GSE dikonsepkan sebagai ekspektasi individu yang dapat tampil secara kompeten melalui situasi yang menantang dan memerlukan usaha, serta ketekunan. Selanjutnya, GSE merupakan keyakinan individu secara global pada salah satu kemampuan untuk mengatasi segala tuntutan atau situasi yang baru (Schwarzer et.al., 1997), untuk mengatasi berbagai macam stressor (Schwarzer et.al., 1999; Schwarzer & Warner, 2013), dan pada kompetensi personal (Scholz et.al., 2002).

Shelton (1990) menjelaskan bahwa konsep self-efficacy yang Bandura (1977) buat hanya berlaku pada situasi tertentu dan dapat dipahami sebagai ciri kepribadian. Lanjut Shelton (1990), GSE merupakan gabungan dari keberhasilan dan kegagalan yang diri individu. Sehingga, jika individu memiliki orientasi lebih percaya diri maka ia akan gigih mengejar tujuannya.

Komentar

Postingan Populer